logo
  • Articles
  • Comments
  • Popular
Recent Articles
  • Georgia Christian Activists Attack Gay Pride in Tb...
  • Why Do Women Convert to Islam?...
  • Sri Digambar Jain Lal Mandir – Delhi...
  • Free Christian Dating Sites – How to Tell If...
Recent Comments
Popular Articles
  • I Am Sorry, I Just Do Not Believe in God
  • Actions Speak Louder Than Words, Sometimes
  • How to Cross The Bridge to Life
  • 10 Ways to Rise From Grief
  • Snake Worship Among Charismatic Churches in The South-eastern United States
  • Are You Allergic of God's Blessings?
  • Xavi Always Respect Islam
  • The Diatessaron: How Taitan Saved The Gospel in The 2Nd Century A.d
  • Behaving-More Than Dos and Don'ts
  • Does Your Bridge Lead to Life?
  • Home
  • About
  • Contact
  • Advertise With Us
  • Submit An Article

Home » Islam » Aqidah Ahlus Sunnah Mengakui Peran Akal

Aqidah Ahlus Sunnah Mengakui Peran Akal

39 menerangkan bahwa aqidah Islamiyah senantiasa memuliakan akal yang benar, serta mengagungkannya dan mengangkat kedudukannya. Demikian pula aqidah Islamiyah tidaklah mengkarantinakan akal dan tidak mengingkari kecemerlangannya.

Tags: agama, Allah, Islam
Published by hakim614 in Islam on February 20, 2012 | no responses

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui peran akal, akan tetapi membatasi wilayah kerjanya sehingga tidak melampaui batas dalam memfungsikan akal serta tidak meremehkan perannya dalam kehidupan.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd hafidzhahullah dalam kitabnya Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah hal. 39 menerangkan bahwa aqidah Islamiyah senantiasa memuliakan akal yang benar, serta mengagungkannya dan mengangkat kedudukannya. Demikian pula aqidah Islamiyah tidaklah mengkarantinakan akal dan tidak mengingkari kecemerlangannya.

Islam tidak ridha terhadap seorang muslim yang melenyapkan cahaya akalnya, dan kemudian lebih condong kepada taqlid buta dalam memahami persoalan di seputar keyakinan (i’tiqad) maupun yang selainnya (Ta’liqaat Samahatus Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin Baaz). Bahkan seorang muslim dituntut untuk berpikir dengan manhaj yang benar tentang kebesaran langit maupun bumi, tentang keadaan dirinya, dan tentang ayat-ayat Allah yang ada di sekitar dia. Dengan demikian ia akan menjangkau segala rahasia dibalik penciptaan alam ini, serta mengenal hakikat kehidupan di dunia ini. Maka melalui perantara berpikir seperti inilah akan mengantarkan seseorang kepada banyak perkara i’tiqad yang sesuai dengan batas kemampuan akalnya.

Read more in Islam
« Words From Hadith
Salman Rushdie is Not The Problem. Muslims are »

Islam sangat mencela orang-orang yang mengkebiri peran akalnya, dan sekedar mengikuti rujukan-rujukan yang di karang oleh nenek moyang mereka dengan tanpa mengoptimalkan potensi akalnya, serta mengambil pelajaran darinya dan kosong dari bimbingan ilmu.

Walaupun Islam memiliki pandangan demikian terhadap akal, akan tetapi Islam tetap memberikan batasan-batasan wilayah kerja akal sehingga dapat lebih proporsional dalam memfungsikannya. Pembatasan ini semata-mata untuk melindungi kemampuan akal tersebut, sehingga akal tidak terpecah konsentrasinya dan tidak tercerai-berai dalam memahami segala perkara ghaib. Karena sesungguhnya akal itu tidak mampu menjangkaunya serta menyibak hakikatnya di balik itu semua. Perkara ghaib yang dimaksud seperti Dzat Allah, eksistensi ruh, surga, neraka dan lainnya. Demikian ini oleh karena akal manusia memiliki wilayah kerjanya sendiri dan bukan bidang garapannya. Maka apabila ia tidak berupaya menempuh bidang yang sebenarnya telah disediakan bagi akal itu, sungguh ia akan sesat dan meraba-raba dalam memahami perkara yang tersembunyi yang sesungguhnya mustahil untuk dicapainya.

Maka wilayah kerja akal itu ialah semua yang bisa disaksikan serta dirasakan keberadaannya. Adapun perkara ghaib yang sesungguhnya tidak dapat dicapai oleh panca indera manusia, maka tidak ada peluang bagi akal untuk meneliti dalam perkara tersebut. Dan hendaknya akal itu jangan keluar dari apa yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’iyah. (Lihat Al-Aqidah Al-Islamiyyah bainal ‘Aql wal ‘Aathifah, DR. Ahmad As-Syariif hal. 4, 73-79)

0
Liked it
I Like It

Leave a Reply

Click here to cancel reply.

Search

Loading

Categories

  • Buddhism
  • Christianity
  • Hinduism
  • Islam
  • Judaism
  • Paganism
  • Religion
Powered by
© 2012 Copyright Stanza Ltd., All Rights Reserved.